Cash Count Adalah: Pengertian, Tujuan, dan Prosedur Lengkapnya

cash count adalah

TL;DR

Cash count adalah perhitungan fisik uang tunai yang ada di tangan perusahaan untuk memverifikasi kesesuaiannya dengan catatan akuntansi. Prosedur ini dilakukan secara mendadak dan serentak, disaksikan auditor dan kasir, lalu diakhiri dengan pembuatan berita acara pemeriksaan kas. Tujuan utamanya adalah membuktikan eksistensi kas sesuai asersi audit.

Saat auditor datang ke perusahaan dan meminta melihat isi brankas, itulah awal dari prosedur yang disebut cash count. Bukan sekadar menghitung uang, prosedur ini punya tujuan yang jauh lebih spesifik dalam konteks audit keuangan. Memahami apa itu cash count penting bagi siapa pun yang bekerja di bidang akuntansi, keuangan, atau manajemen operasional perusahaan.

Pengertian Cash Count

Cash count adalah prosedur pemeriksaan fisik terhadap uang tunai yang dimiliki perusahaan, baik yang ada di brankas, di laci kasir, maupun di tempat penyimpanan lainnya. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sering disebut kas opname atau pemeriksaan kas. Menurut Mekari Jurnal, prosedur ini merupakan bagian dari audit kas yang dilakukan auditor untuk menguji asersi eksistensi, yaitu membuktikan bahwa saldo kas yang tercatat di laporan keuangan memang benar-benar ada secara fisik.

Perbedaan cash count dengan penghitungan kas biasa terletak pada konteksnya. Penghitungan kas rutin dilakukan oleh kasir setiap akhir shift sebagai bagian dari operasional. Cash count dalam konteks audit dilakukan oleh pihak eksternal (atau internal audit) secara independen, dengan tujuan verifikasi, bukan sekadar rekap harian.

Tujuan Cash Count dalam Audit

Ada beberapa alasan mengapa cash count menjadi bagian yang tidak bisa dihilangkan dari prosedur audit kas:

  • Membuktikan eksistensi kas: memastikan bahwa uang yang tercatat di neraca benar-benar ada, bukan hanya angka di atas kertas.
  • Mendeteksi kecurangan: penghitungan mendadak membuat manipulasi lebih sulit disembunyikan.
  • Memverifikasi kelengkapan: memeriksa apakah semua kas sudah tercatat, tidak ada yang disembunyikan atau belum dibukukan.
  • Menilai kontrol internal: seberapa ketat prosedur penyimpanan dan pengeluaran kas di perusahaan.

Menurut Binus University, cash count termasuk dalam kategori prosedur substantif, yaitu prosedur yang langsung menguji kebenaran angka dalam laporan keuangan, bukan hanya menilai apakah sistem pengendalian internal sudah berjalan.

Prosedur Cash Count Langkah per Langkah

Pelaksanaan cash count yang sesuai standar mengikuti urutan yang ketat:

  1. Persiapan berita acara: auditor menyiapkan formulir berita acara pemeriksaan kas sebelum datang ke lokasi, mencakup kolom untuk mencatat jenis dan jumlah uang.
  2. Pelaksanaan mendadak: penghitungan dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada kasir, untuk mencegah manipulasi saldo sebelum pemeriksaan.
  3. Penghitungan serentak: jika ada beberapa titik penyimpanan kas, semua dihitung pada waktu yang sama agar tidak ada pemindahan uang antar titik selama proses berlangsung.
  4. Disaksikan kasir: proses penghitungan dilakukan di hadapan kasir atau penanggung jawab kas, agar tidak ada tuduhan manipulasi dari kedua pihak.
  5. Pencocokan dengan catatan: hasil penghitungan fisik dibandingkan dengan saldo kas menurut catatan akuntansi per tanggal yang sama.
  6. Pembuatan berita acara: semua pihak, minimal auditor dan kasir, menandatangani berita acara hasil pemeriksaan.

Baca juga: Contoh Budaya Kerja Positif di Perusahaan dan Jenisnya

Selisih Kas: Apa yang Terjadi Jika Ada Perbedaan?

Tidak jarang hasil cash count menunjukkan selisih antara jumlah fisik dan catatan. Ada dua kemungkinan: kas fisik lebih sedikit dari catatan (cash shortage) atau lebih banyak (cash overage). Keduanya harus diselidiki dan diklarifikasi.

Cash shortage yang kecil dan tidak berulang bisa jadi disebabkan kesalahan pengembalian uang kembalian. Tapi jika polanya konsisten atau jumlahnya material, ini bisa menjadi indikasi penyalahgunaan. Cash overage juga perlu diselidiki karena bisa berarti ada transaksi yang belum dibukukan.

HashMicro mencatat bahwa perusahaan yang rutin melakukan cash count internal, tidak hanya saat diaudit, cenderung memiliki tingkat keakuratan laporan keuangan yang lebih tinggi. Frekuensi yang disarankan minimal sekali sebulan untuk perusahaan dengan volume transaksi tunai yang tinggi.

Hal-hal yang Diperiksa dalam Cash Count

Selain uang kertas dan koin, cash count yang menyeluruh juga memeriksa beberapa item lain yang setara dengan kas:

  • Cek yang sudah diterima tapi belum dicairkan
  • Bon sementara atau bukti transaksi yang belum dibukukan
  • Struk pembayaran yang masih terbuka
  • Dana kas kecil (petty cash) yang dikelola terpisah

Semua item ini perlu didaftar dalam berita acara dengan rincian yang cukup. Bon sementara dan cek yang belum dicairkan biasanya memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan keabsahan dan ketepatan pembukuannya.

Cash Count dan Pengendalian Internal

Efektivitas cash count sangat bergantung pada kualitas pengendalian internal perusahaan. Perusahaan dengan pengendalian yang lemah, seperti satu orang yang memegang semua fungsi kas, lebih rentan terhadap kesalahan dan kecurangan yang tidak terdeteksi.

Pemisahan tugas adalah prinsip dasar yang harus ada: orang yang menerima uang seharusnya berbeda dengan orang yang mencatat dan yang menyimpan. Auditor yang melakukan cash count biasanya sekaligus mengevaluasi apakah prinsip pemisahan tugas ini sudah berjalan dengan baik.

Cash count adalah prosedur yang terlihat sederhana tapi punya peran besar dalam menjaga integritas laporan keuangan. Bagi perusahaan yang ingin membangun kepercayaan dari investor, kreditur, atau mitra bisnis, memiliki prosedur cash count yang terdokumentasi dengan baik adalah salah satu tanda bahwa tata kelola keuangannya serius.

Scroll to Top